RADIO SUARA SAWERIGADING MEDIA HIBURAN DAN INFORMASI-

Selasa, 17 Juli 2012

Ramadhan di Tanah Mandar

Mambaca-baca

Di Mandar, tradisi yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan adalah kegiatan kenduri. Acara dilangsungkan tepat di malam pertama bulan Ramadhan. Tradisi ini lebih kental di masyarakat Mandar yang berada di pedalaman, misalnya daerah pegunungan. Kalau yang di kota-kota, misalnya di Tinambung, bisa dikatakan tidak semua rumah mengadakan “baca-baca”.

Buka puasa

Paling tidak ada tiga bentuk buka puasa selama Ramadhan di kampung kita, Tinambung. Pertama di rumah, kedua di masjid, ketiga pada acara buka puasa. Yang dimaksud dengan yang ketiga adalah bila ada yang punya hajatan, misalnya organisasi profesi, parpol, sekolah, lembaga pemerintah, maupun rumah tangga yang punya kemampuan ekonomi untuk potong banyak ayam, siapkan kue lebih banyak dari biasanya, dan sebagainya.
Buka puasa di rumah tidak lepas dari kue atau makan-minuman yang manis. Pallebutung, pisang ijo, cendol, agar, kue lapis, dan makanan yang jamak di Mandar silih berganti di dapur rumah orang-orang Mandar.
Buka puasa di masjid tidak kalah menariknya. Perlu dibedakan buka puasa di masjid yang harian dengan yang diadakan khusus. Kalau yang harian, pelaksanaannya cukup bersahaja. Dihadiri beberapa takmir dan jamaah-jamaah shalat Maghrib. Waktu mara’dia kita masih hidup, beliau lebih banyak buka di masjid dibanding di rumahnya.
Lalu dari mana kue-kue berasal? Kue secara bergilir dibawa oleh ibu-ibu rumah tangga yang bermukim di sekitar masjid. Karena digilir, rasa dan bentuk kue cukup beragam. Enak kan?
Beda dengan kota, hidangan buka puasanya ditanggung oleh masjid. Menunya mulai dari nasi bungkus, es buah hingga nasi kotak. Tapi beda tiap masjid. Masjid “kaya”, misalnya Masjid Raya Makassar, membuat paket makanan dalam jumlah banyak. Kenyamanan di masjid tersebut membuat banyak ummat yang beribadah di sana, termasuk berbuka.

Jalan-jalan subuh

Selesai membaca do’a, biasanya jamaah tidak langsung pulang ke rumah, kecuali yang ingin melanjutkan tidurnya. Aktivitas yang mungkin bisa dianggap khas bulan Ramadhan di Mandar, khususnya Tinambung, adalah jalan-jalan subuh. Jamaah-jamaah dari beberapa masjid, misalnya Tingga-tinggas, Kandemeng, Sepang, dan Tinambung paling tidak bertemu di dua titik. Kalau bukan di kandang, di jembatan Sungai Mandar.
Kalau jamaah dari Al Hurriyah Tinambung, “rutenya”: kandang, belok kanan ke arah jembatan, tiba di ujung jembatan balik untuk kemudian pulang ke rumah. Biasa juga ada yang langsung ke arah Puskesmas. Karena jika jalannya lambat dan biasa singgah beberapa saat di jembatan, perjalanan relatif lama.
Juga ada “rute” lain, tapi yang memilih biasanya orang tua. Yaitu ke arah Kandemeng atau menuju lapangan. Ya, rute ini lebih sepi, cocok untuk orang-orang tua.
Anak-anak muda yang menunggu-nunggu Ramadhan. Apalagi kalau bukan mangodo’, meski tidak seagresif di luar bulan Ramadhan. Paling tidak lihat cewek-cewek lalu lalang di depan, saat berdiri di trotoar jembatan Sungai Mandar.
Sudah menjadi anggapan umum bahwa di awal dan akhir Ramadhan pasti banyak yang jalan-jalan subuh, tapi kalau berada di tengah Ramadhan, jalanan cenderung sepi meski tidak sesepi di luar Ramadhan.

Awal ramai, tengah sepi, akhir ramai (lagi)

“Peserta” jalan-jalan subuh yang menurun sepertinya berkorelasi dengan jumlah jamaah di masjid, mulai dari shalat Dhuhur sampai shalat sunnah tarawih/witir. Awalnya ada beberapa saf, tapi menjelang tengah Ramadhan, saf “maju ke depan”. Untung menjelang akhir saf “mundur” lagi, jadi “tidak apa-apa”. Juga tidak perlu “malu”, hampir semua masjid/daerah di Indonesia demikian.

Celengan

Di Masjid Al Hurriyah Tinambung, pembawa celengan kayaknya tidak bisa dipisahkan dari dinamika masjid terbesar di Kecamatan Tinambung ini. Peran pembawa celengan cukup besar artinya di bulan Ramadhan dan pada saat shalat Id. Bila di luar Ramadhan hanya ada satu petugas pembawa celengan, di Ramadhan bisa sampai 4-5 orang.
Oh iya, hasil celengan juga punya kesamaan dengan “peserta” jalan subuh dan jumlah jamaah. Jumlah celengan yang berhasil dihimpun cenderung besar di awal, sedikit di tengah. Akhir Ramadhan banyak lagi, karena banyak jamaah di malam-malam ganjil.
Kalau dibandingkan dengan Yogya dan beberapa masjid di Makassar, pengedaran celengan di Tinambung beda. Di Yogya, celengannya berjalan “sendiri” alias diopor-opor jamaah. Ini bisa dilakukan sebab jamaah tidak berjauhan, mereka duduk berdampingan. Di Tinambung jangan bayangkan itu bisa dilakukan, jadi memang harus ada yang mengedarkan celengan.

MC dan penceramah

Masih di masjid kebanggaan kita, Al Hurriyah Tinambung, kesuksesan acara ibadah di masjid tidak terlepas dari peran MC alias pembawa acara dan penceramah. Penceramah sudah jelas perannya, jadi tidak perlu dibahas panjang di tulisan ini.
MC menarik sebab 11 bulan yang lain tidak ada MC-nya. MC tampil di depan jamaah beberapa saat menjelang shalat Isya. Si MC, biasanya dibawakan anak-anak muda, mengumumkan pemimpin shalat Isya, tarawih, dan witir; jumlah celengan malam sebelumnya; petugas pembawa celengan, dan penceramah “malam ini” dan “esok”.

Passalawa’

Kekhasan Ramadhan yang lain di masjid kita adalah adanya passalawa’. Setiap dua rakaat, tim passalawa’ yang dibawakan oleh anak-anak remaja, membacakan shalawat. Tim salawat mudah dikenali, mereka seragam bajunya. Ramadhan kali ini beda, pakai baju batik. Dulu kattiung atau baju arab.
Salah satu anggota tim passalawa’ yang bersuara keras dan indah suaranya menjadi “pengeras suara” imam, misalnya ketika takbir, sujud, dan salam.
Passalawa’ bertugas penuh di bulan Ramadhan. Selain dapat amal, mereka juga dapat berkah dunia. Bukan gaji, tapi semacam ungkapan terima kasih dari jamaah.

Tarawih

Di masjid kita, tarawihnya 20 rakaat plus witir 3 rakaat. Ada beberapa jamaah yang hanya sampai tarawih delapan dan lanjutkan witir di rumah.
Tapi kita jangan kaget bila ke Yogya. Di sana ada banyak masjid yang hanya sampai tarawih delapan plus witir. Rakaatnya pun tidak dua-dua, tapi empat-empat. Tim passalawa’ pun tidak ada. Shalawat kepada Nabi Muhammad dilakukan semua jamaah dengan bimbingan imam.

Penjual kue

Ramadhan bukan saja bulan ibadah. Ada beberapa saudara kita juga memanfaatkannya untuk menambah penghasilan. Hitung-hitung ada uang untuk membelikan anak baju dan sandal baru.
Selama Ramadhan, penjual kue dan makanan tumbuh di mana-mana, khususnya di sekitar masjid, meski tidak seperti jamur di musim hujan. Biasanya menu yang dijual adalah jagung bakar, kacang, mie, pallubutung, sara’ba, dan lain-lain. Warung biasanya ramai sebelum shalat Isya, setelah tarawih delapan, dan setelah ibadah di masjid selesai. Yang meramaikan biasanya anak-anak kecil dan remaja.

Yang menemani makan sahur

Kalau tidak salah, sudah 35 tahun Kyai H. Abdul Rahman Wahid menemani orang-orang beriman di kawasan timur Indonesia makan sahur lewat acara radio “Dialog Bulan Ramadhan”. Acara disiarkan pukul 03.15 WITA dinihari dengan durasi 30 menit.
Tiga dekade menemani, tapi orang lebih mengenal sapaannya, yaitu “Pak Kyai”, bukan nama lengkap di atas. “Pak Kyai” bertahan begitu lama dengan mitra silih berganti. Yang paling berkesan di hati pemirsa adalah Kyai H. Syamsumarlin BA atau lebih akrab dipanggil “Daeng Naba”.
Masyarakat Mandar cukup menggandrungi acara RRI Makassar itu. Berbagai macam pertanyaan masuk ke saluran telepon atau lewat surat. Salah satu daya tarik acara ini adalah cukup merakyat dan ada nuansa humornya, tapi tidak vulgar, sebagaimana acara-acara di TV sekarang ini.
Meski “Pak Kyai dan Daeng Naba” tergusur oleh acara-acara Ramadhan di tivi-tivi, namun di hati masyarakat Mandar (khususnya generasi 25 tahun ke atas) acara itu takkan terlupakan!

“Pembue’o miapi !!!”

Judul bagian ini tak pernah lagi menggema di sekeliling Masjid Raya Al Hurriyah Tinambung sejak meninggalnya Kama’ Sako’. Beliau adalah takmir masjid di era Imam Janggo’ (Kyai H. Alwi).
Masih terngiang di telinga kita sahutan-sahutan: “Sahuuur … sahuuur … sahuuur …pembue’o miapi … sappulo pai meni’ tannalambi’ pukul dua. Sahuuur … sahuuur … sahuuur … alloang ao. Sahuuur … nasamba’iao gimbal” (Sahur, bangunlah memasak, sepuluh menit lagi jam dua. Sahur, jangan sampai kesiangan. Sahur, awas beduk akan menendangmu). Kemudian ditutup dengan kalimat unik dan khas: “Saya pulang di rumah” (bukan “Saya pulang ke rumah”).

Ketulusan, loyalitas, pengabdian, dan kekuatan iman diramu jadi satu dalam jiwa Kama’ Sako’. Puluhan tahun, sejak zaman belum ada mic (pengeras suara) hingga tubuhnya tak mampu lagi dibawa ke masjid, beliau tak bosan menyeru umat muslim untuk bangun mempersiapkan sahur.

Mengenang kembali ramadhan-ramadhan dulu membuat hati rindu suara khas Kama’ Sako’. Beliau meninggalkan masyarakat Mandar di Tinambung pertengahan 90-an lalu. “Kama’ Sako’, salama’ lao ku’burna!” (Kama’ Sako’ semoga selamat dikuburnya). Kalau ada yang menambahkan, khususnya teman-teman dari Tinambung, pasti lebih menarik dan lebih lengkap.

sumber :  http://ridwanmandar.com

Reaksi:

0 komentar: